Pada hakikatnya, kiblat adalah satu arah yang menyatukan arah segenap umat Islam dalam melaksanakan shalat, tetapi titik arah itu sendiri bukanlah obyek yang disembah oleh umat Muslim dalam melaksanakan shalat.

Sudut Pandang

Obyek yang dituju oleh Muslim dalam melaksanakan shalat itu tak lain hanyalah Allah SWT. Dengan demikian, umat Islam bukan menyembah Ka’bah, tetapi menyembah Allah SWT. Ka’bah hanya menjadi kasatuan arah dalam shalat.

Semua mujtahid (ahli ijtihad) bersepakat bahwa menghadap ke kiblat dalam melaksanakan shalat adalah wajib dan merupakan syarat sahnya shalat. Kewajiban ini dipahami berdasarkan surat <al-Baqarah ayat 144 serta beberapa hadis Nabi SAW. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila kamu melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu mu, kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Sedangkan bagi mereka yang tak mengetahui arah kiblat, maka menghadap kiblat didasarkan pada ijtihadnya.

Hal ini didasarkan pada Firman Allh SWT yang artinya,

”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah...” (QS: al-Baqarah:115).

”Ulama Islam semuanya menetapkan bahwa menghadap ke kiblat dalam shalat adalah syarat sahnya shalat, kecuali tak sanggup melakukannya, seperti ketika ketakutan dalam peperangan yang sedang berlangsung atau ketika shalat sunah dalam perjalanan yang dikerjakan di atas kendaraan,” ungkap Ahli Hadis dan Usul Fikih, Asy Syaukani.

Ijihad

Imam Nawawi pernah berkata, ”Menghadap kiblat adalah syarat sah shalat, tidak ada perbedaan pandangan tentang itu. Akan tetapi yang dimaksud dengan shalat di sinia adalah sahlat fardu dan salat sunat yang dilakukan di dalam kampung, bukan ketika berhalangan (uzur) atau di tengah perjalanan.”  disarikan dari Ensiklopedia Islam terbitan Ictiar Baru van Hoeve Jakarta.

Mengingat dalil dan hadits tersebut di atas maka dapat disimpulkan betapa pentingnya ijtihat dalam menentukan arah kiblat dan harus menjadi salah satu proritas utama bagi kaum muslimin yang hendak melakukan pembangunan masjid khususnya, maka dari itu sebagai salah satu bentuk ijtihad panitia pembangunan masjid Asy Syuhada dalam menentukan arah kiblat adalah dengan menjalin komunikasi yang aktif dengan departemen agama yang in sya Allah sudah menjadi tugas dan keahliannya untuk dapat menentukan arah kiblat, dan alhamdulillah saat ini panitia sudah mengantongi sertifikat kiblat dari departemen agama sebagai bukti telah di lakukannya penetapan arah kiblat oleh petugas terkait. Dalam proses pelaksanaanya dapat tergolong sangat singkat dimana yang menjadi faktor penting adalah cuaca yang sangat mendukung karna sesuai arahan petugas faktor matahari adalah sangat penting dalam akurasi penentuan arah kiblat nya ditambah beberapa peralatan seperti tali, patok dan papan sebagai alat pendukung nya.

Tahapan Awal

Perlu di perhatikan rangkaian ini perlu di lakukan pada awal tahapan perencanaan pembangunan dan bukan di lakukan setelah pembangunan, kenapa demikian ,.? Dikarenakan apabila penetapan kiblat dilakukan setelah pebangunan maka akan berpengaruh pada kerapihan shaf shalat, kasus seperti ini banyak terjadi pada masjid-masjid yang di bangun dahulu tanpa ijtihad dalam penetuan kiblatnya namun baru kemudian dilakukan pengukuran arah kiblat setelah rampung nya pembangunan.

Tentu saja hal ini sangat krusial mengingat kiblat adalah arah dimana umat muslim melakukan shahat pada setiap hari dan waktunya akan sangat disayangkan apabila arah masjid dan arah shaf shalat (kiblat nya) tidak sejajar atau presisi. Wallahu A’lam …

Foto dokumentasi terlampir,..